Assalamualaikum warahmatullahita'alla wabarakatuh...
Menikah beda agama
---------------------------------------
Hukum pernikahan beda agama, atau biasa juga dikenal dengan pernikahan lintas agama selalu menjadi polemik yang cukup kontroversial di masyarakat, khususnya negara yang memiliki berbagai macam penduduk dengan agama yang berbeda-beda.
Indonesia merupakan negara mayoritas muslim terbanyak di seluruh dunia, namun tetap saja sering muncul pertanyaan terkait perihal pernikahan. Bolehkah seorang muslimah menikahi seorang non muslim? Jika dapat bagaimana Islam menanggapi hal tersebut?
Memang urusan cinta itu tidak akan ada habisnya, semakin dibicarakan ia akan semakin sulit dicerna, seperti itulah kira-kira, karena cinta sulit didefinisikan, dan memang sepertinya cinta akan lebih indah justru ketika ia tanpa definisi.
Urusan cinta memang kadang ajaib, kadang-kadang ia hadir tanpa sebab, dan hadir tanpa tau alamat sebelumnya. Hingga tidak sedikit cinta mampir ke hati dia yang berbeda keyakinan dengan kita. Ada kalanya laki-laki muslim mencintai perempuan yang berbeda agama dengannya, dan sebaliknya terkadang muslimah malah jatuh cinta dengan laki-laki non muslim.
Berikut ini adalah beberapa ayat yang sering dijadikan pijakan dalam membahas hukum nikah beda agama:
Ayat-ayat
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُش ْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْد . وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّ اسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah azza wa jalla mengajak ke surga dan ampunan dengan ijin-Nya. dan Allah azza wa jalla menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran ”
(QS. Al-Baqarah: 221)
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَُمْ وَط َعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَ لُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud manisnya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) antara lain gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhir termasuk orang-orang merugi”.(QS. Al-Maidah: 5)
لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka”
(QS. Al-Mumtahanah: 10)
Sebab Nuzul
Surat Al-Baqarah ayat 221 ini adalah ayat pertama yang sering menjadi awal pembahasan, dimana dalam ayat ini ada pesan larangan untuk menikah dengan yang bukan seagama, walaupun masih belum jelas apakah pelarangan itu bersifat haram mutlak, atau ada penjelasan lainnya.
Untuk lebih memahami konteks dimana ayat ini turun, kiranya perlu bagi kita untuk sedikit melihat beberapa riwayat yang ada dalam menjelaskan latar belakang ayat ini turun, sehingga dengan pengetahuan ini diharapkan agar kita mempunyai gambaran awal dari pembahasan pada tema nikah beda agama ini.
Paling tidak ada dua riwayat masyhur yang sering dikutip oleh ulama tafsir dalam banyak kitabnya:
A. Riwayat Pertama
Ibnu Abbas ra. Meriwayatkan bahwa salah seorang sahabat nabi bernama Abdullah bin Rawahah mempunyai budak perempuan hitam, lalu kemudian karena kejadian tertentu akhirnya Abdullah bin Rawahah marah besar dengan budaknya, lalu dia menamparnya. Kejadian ini akhirnya menceritakan kepada Rasulullah Nabi Besar Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam, lalu kemudian Rasulullah Nabi Besar Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam bertanya:“Bagaimana keadaan budakmu itu, wahai Abdullah?” Lalu menjawab: “Dia berpuasa, shalat, berwudhu', dan dia juga bersyahat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Engkau adalah Utusan Allah. Maka seketika Rasul mengatakan bahwa dia adalah muslimah.
Kemudian Abdullah bin Rawahah bersumpah untuk memerdekakannya dan menikahinya, begitu pula beliau memerdekakannya dengan berani beliau juga menikahinya. Masyarakat setempat pada waktu itu ramai melindungi pernikahan Abdullah bin Rawahah dengan mantan budak perempuannya, seakan itu adalah pernikahan yang hina, sehingga mereka menyayangkan hal itu terjadi.
Ramainya pemberitaan negatif ini disebabkan karena pada waktu yang bersamaan ada fenomena yang lagi nge-trend di masyarakat Arab dimana mereka senang dengan perempuan musyrik karena biasanya perempuan-permpuan itu mempunyai jabatan bagus di masyarakatnya, atau dengan kata lain mereka adalah perempuan yang berpangkat.
Dengan kejadian seperti ini, maka turunlah QS. Al-baqarah: 221, sebagai jawaban bahwa apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Rawahah bukan sebuah hal yang buruk.
B. Riwayat Kedua
Apa yang dikeluarkan oleh Abu Hatim, Ibnu Al-Mundzir dari Muqatil bin Hayyan berkata: Ayat ini turun terkait dengan cerita Martsad Al-Ghanawi yang meminta idzin kepada Rasulullah Nabi Besar Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam untuk menikahi seorang perempuan musyrik yang memiliki starata sosial yang bagus pada kabilahnya bernama 'Anaq. Martsad berkata: “Ya Rasulullah, sungguh aku tertarik (untuk menikahi) perempuan 'Anaq itu”. Lalu Allah azza wa jalla menurunkan ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan sahabat Martsad Al-Ghanawi.
Hukum Fiqih
Dalam hal ini setidaknya ada dua permasalahan besar terkait dengan nikah beda agama. Pertama terkait dengan hukum laki-laki muslim menikah dengan perempuan musyrik, dan yang kedua terkait dengan perempuan muslimah menikah dengan laki-laki musyrik.
Pertama: Muslim Menikah Dengan Bukan Muslimah
Di Indonesia masalah ini agak jarang terjadi, namun perlu juga kiranya kita mencari tahu bagaimana detail pendapat ulama dalam masalah ini. Cinta memang buta, namun cinta tetap tidak bisa membutakan hukum. Dalam hal ini setidaknya ada dua pendapat besar:
1. Mayoritas Ulama
mayoritas ulama menyepakati, termasuk dewan ulama empat madzhab, bahwa haram menikahi perempuan bukan muslimah selain ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Keharaman menikahi perempuan bukan muslimah selain ahli kitab itu berdasarkan QS. Al-Baqarah: 221 dia atas, dan kebolehan perempuan ahli kitab itu berdasarkan QS. Al-Maidah ayat ke-5.
Dalam bahasa lain bahwa menurut mayoritas ulama boleh menikahi perempuan ahli kitab, walaupun status kebolehannya juga berkisar antara mubah dan makruh.
Namun yang juga perlu digaris bawahi bahwa kebolehan menikahi mereka mensyaratkan bahwa perempuan ahli kitab itu adalah sosok yang suci dari perzinahan, masuk dalam katagori muhshanat dan statusnya bukan penduduk harbiy yang boleh dibunuh dan dalam madzhab Syafi'i ahli kitab yang dimaksud nasabnya harus sampai kepada Bani Isra'il, walaupun syarat yang ketiga masih diperselisihkan antara ulama.
Jumhur ulama menilai bahwa lafazh al-Musyrik pada QS. Al-Baqarah: 221 tidak mengandung makna ahli kitab, berdasarkan ayat berikut:
مَّا يَوَدُّ الذين كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الكتاب وَلاَ المشركين
“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menghendaki diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. dan Allah azza wa jalla menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah azza wa jalla mempunyai karunia yang besar” (QS. Al-Baqarah: 105)
لَمْ يَكُنِ الذين كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الكتاب والمشركين
“Orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata” (QS. Al-Bayyinah: 1)
Pada kedua ayat diatas kata Ahl al-Kitab dan al-Musyrik digabungkan atau di'athafkan dengan khuruf waw, dalam kaidahnya kata yang berada sebelum huruf waw dan kata yang datang sesudahnya memberi isyarat bahwa keduanya adalah dua hal yang berbeda, bukan satu jenis. [penerimaan مغايرة]
Hal ini dikuatkan dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibu Abbas ra, dan ini juga pendapat Malik bin Anas dan Sufyan As-Tsauri dan Abdurrahman Al-Auza'i bahwa keharaman menikahi non muslimah pada QS. Al-Baqarah: 221 itu dihapus keberlakuannya (di-nasyakh) oleh QS. Al-Maidah: 5 yang membolehkan ahli kitab.
Pendapat yang hampir sama juga dinyatakan oleh Qatadah dan Sa'id bin Jubair yang menilai bahwa QS. Al-Baqarah: 221 sifatnya umum ('am) yang maksudnya dan tujuannya dikhususkan (takhsish) maknanya oleh QS. Al-Maidah: 5. Dalam istilah Ushul Fiqih pendalilan seperti ini di kenal dengan istilah 'am urida bihi al-khusush [العام أريد به الخصوص]
Dan menurut penjelasan At-Thabari pendapat Qatadah ini adalah pendapat yang paling kuat, bahwa QS. Al-Baqarah: 221 ini adalah ayat yang tampaknya 'am (umum) tapi sebenarnya ia adalah ayat khas (khusus), dan tidak ada yang dihapus, serta ahli kitab tidak masuk dalam pelarangan yang dimaksud [أن الآية عام على ظاهرها خاص باطنها ، لم ينسخ منها شيء وأن نساء أهل الكتاب غير داخلات فيها]
Kebolehan menikahi ahli kitab juga dikuatkan dengan kenyatan ternyata sahabat Rasulullah Nabi Besar Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam yang bernama Khudzaifah bin Al-Yaman dan Tholhah bin Ubaidillah juga menikahi perempuan ahli kitab, lebih tepatnya dalam riwayat lainnya salah seperti yang ditulis oleh Ibnu Katsir bahwa Hudzaifah menikah dengan perempuan Nashrani dan Tholhah menikah perempuan Yahudi.
Melihat kenyataan ini lalu Umar bin Khattab memerintahkan agar sahabat Hudzaifah dan Tholhah ini menceraikan istrinya yang Nashrani dan Yahudi itu. Memang Umar bin Khattab termasuk sahabat yang paling gentol mengkampanyekan agar tidak menikahi perempuan ahli kitab.
Kampanye ini bukan berarti sosok Umar mengharamkannya, namun hal ini dilakukan semata-mata untuk kehati-hatian agar laki-laki muslim tidak mudah memutuskan untuk menikahi mereka, terlebih lagi bahwa keberadaan muslimah masih sangat mencukupi untuk dinikahi.
Jangan sampai gara-gara Hudzaifah menikahi gadis ahli kitab, lalu kemudian yang lain juga mengikutinya dengan cara mencari pembenaran dari apa yang di lakukan oleh Hudzaifah, sahabat Rasulullah Nabi Besar Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam, penjelasan ini seperti yang ditulis As-Shobuni dalam Rawa'i al-Bayan-nya.
Dari cerita Umar bin Khattab ini kita bisa menilai bahwa sah hukumnya menikahi perempuan ahli kitab, dengan dalil bahwa perintah tholak (cerai) yang diminta oleh Umar tersebut tidak mungkin terjadi kecuai jika sebelumnya sudah ada hubungan pernikahan yang sah.
Jika saja menikahinya haram, maka sudah barang tentu Umar tidak akan memerintahkan mereka berdua untuk menceraikannya, melainkan langsung pisah secara otomatis, dan bahwa pernikahan itu tidak diakui. Jika nikah belum sah tidak mungkin ada perceraian.
Namun At-Thabari dalam Jami' al-Bayan-nya meyakini bahwa cerita tentang Umar diatas tidak bisa dibenarkan dengan begitu saja, bagaimana mungkin sosok Umar sangat berani mengaku seakan berseberangan dengan kehalalan yang Al-Quran sampaikan, karena riwayat cerita tersebut bermasalah dari sisi jalur periwayatan, justru menurut jalur periwayatan At-Thabari yang lebih kuat mengabarkan kepada kita akan kata-kata Umar berikut:
“Seorang muslim (boleh) menikahi perempuan Nashrani, dan seorang Nasrani tidak boleh menikahi perempuan muslimah”
Al-Qurthubi dalm tafsirnya menambahkan bahwa pendapat mayoritas ulama ini semakin kuat dengan didukung oleh pendapat banyak sahabat lainnya, seperti Utsman, Thalhah bin Ubaidillah, Ibnu Abbas, Jabir, Hudzifah bin Al-Yaman, juga didukung oleh pendapat para tabi'in yang juga senada , seperti pendapat Sa'id bin Musayyib, Sa'id bin Jubair, Al-Hasan, Mujahid, Thowus, Ikrimah, As-Sya'bi, dan Ad-Dhohhak.
Namun sekarang ini, justru kita berhadapan dengan kenyatakan bahwa ada sekian banyak perempuan muslimah yang belum menikah dengan jumlah bahkan sampai tiga kali lipat atau lebih dari keberadaan laki-laki muslim, jika laki-laki muslim sudah terkena virus merah jambu dengan perempuan Yahudi atau Nasrani, alangkah malangnya nasib menjadi muslimah.
Mereka lebih layak untuk dinikahi, sepertinya lelaki muslim mungkin perlu memasang pagar yang kuat agar hatinya kokoh menahan panah-panah cinta yang mungkin ditiupkan ke hati mereka melalui banyak cara yang terkadang tidak terduga.
Cepat lupakan kesan baik mereka yang mungkin akan berlanjut ke hati. Muslimah kita masih banyak yang lebih cantik dan lebih menarik serta lebih bisa mendatangkan sakinah di rumah tangga. Jika pun pernah menikahi mereka dengan niat politik juga butuh berpikir seribu kali untuk menjalaninya.
2. Pendapat Ibnu Umar
Berbeda dengan pendapat mayoritas ulama di atas, maka Ibnu Umar punya pendapatnya sendiri yang lebih ekstrim akan keharaman perempuan bukan muslimah secara mutlak, termasuk didalamnya haram perempuan ahli kitab.
Sepertinya anak kesayangan Umar bin Khattab ini berpendapat bahwa QS. Al-Maidah yang menjelaskan kebolehan perempuan ahli kitab dihapuskan keberakuannya (di-nasakh) oleh QS. Al-Baqarah: 221 yang melarang pelarangan perempuan musyrik secara umum, tanpa pembatasan.
Secara tegas jika Ibnu Umar ditanya tentang hukum laki-laki muslim menikahi perempuan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) beliau dengan tegas biasanya akan menjawab dengan:
*حرّم الله تعالى مشركات على المسلمين، ولا أعرف شيئاً من الإشراك أعظم من أن يقول المرأة: ربّها عيسى، أو عبدٌ من عباد الله تعالى
“Allah telah mengharamkan perempuan musyrik bagi kaum muslimin, dan saya tidak tahu jika ada dosa syirik yang lebih besar melebihi dosa perempuan yang dengan keyakinannya mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa, atau salah satu hamba Allah lainnya”
Namun pendapat ini dinilai lemah, karena menurut mayoritas ulama bahwa QS. Al-Baqarah: 221 itu turun pada periode awal awal Madinah, sedangkan ayat QS. Al-Maidah: 5 justru turunnya belakangan, ayat tersebut pada periode akhir-akhir Madinah.
Jika memakai kaidah nasikh dan mansukh maka sudah pasti QS. Al-Baqarah: 221 statusnya menjadi mansukh (yang dihapus), sedang ayat QS. Al-Maidah: 5 statusnya adalah sebagai nasikh (yang menghapus) keberlakuan hukum pada ayat sebelumnya
kedua: Menikah Muslimah Dengan Non Muslim
Lanjutan dari QS. Al-Baqarah: 221 adalah perihal larangan menikahkan perempuan muslimah dengan non muslim atau kafir. Non muslim yang dimasud adalah seluruh laki-laki yang bukan muslim, apapun nama agamanya, ini yang membedakan antara pebahasan pertama dengan yang kedua.
Hal ini dikuatkan melalui ayat berikut:
لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” (QS. Al-Mumtahanah: 10)
tokoh besar Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsir menilai bahwa potongan ayat terakhir ini tidak ada yang mengkhususkannya, dan Al-Qurthubi meyakinkan bahwa pelarangan ini sudah ada kata kebiasaan (ijma') dari para ulama, sehingga kontradiksinya bukanlah sebuah kebaikan, apalagi pembicaraannya ulang di dunia akademis yang kadang ngalur-ngidul tidak jelas arahnya kemana.
Kalimat “وَلَا تُنْكِحُوا” dengan harakat dhommah (di depan) pada huruf ta' terjemah Indonesia: “Janganlah kalian menikahkan”, maksudnya adalah menikahkan perempuan muslimah dengan non muslim. Dari ayat inilah para ulama menilai bahwa perempuan, khususnya yang berstatus perawan, tidak boleh menikahkan dirinya sendiri, dia harus dinikahkan oleh walinya.
Pernikahan tanpa wali diyakini tidak sah oleh mayoritas ulama, termasuk didalamnya ulama empat madzhab minus madzhab Abi Hanifah, hal ini lebih dikuatkan dengan keterangan hadits Rasulullah Nabi Besar Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam:
أَيُّمَا اِمْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاح ُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
“Perempuan mana saja yang menikah tanpa restu walinya maka nikahnya batil, maka nikahnya batil, maka nikahnya batil” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
لاَ نِكَاحَ إِلا بِوَلِيٍّ
“Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali” (HR. Ahmad)
لاَ تُزَوِّجُ المَرْأَةُ نَفْسَهَا فَإِنَّ الزَّانِيَةَ هِيَ الَّتِي تَزَوِّجُ نَفْسَهَا
“Janganlah seorang perempuan menikahkan dirinya sendiri, karena sungguh (hanya) pezinah saja yang menikahkan dirinya sendiri” (HR. Ad-Daru Quthni)
Dari beberapa kasus yang terjadi di negri kita ini sepertinya para orang tua perempuan atau wali dari perempuan muslimah kita sedikit kecolongan, sehingga sebagian pernikahan beda agama itu justru sudah terjadi tanpa sepengetahuan orang tua sebelumnya. Dan lebih parahnya terkadang justru dari keluarga muslimah itu sendiri yang terkesan berbangga hati ketika anaknya menikah dengan laki-laki gagah non muslim. Na'udzubillah.
Keharaman menikahkan muslimah dengan non muslim itu setidaknya mengikat dengan landasan bahwa Islam itu tiggi dan tidak ada yang boleh lebih tingi darinya, sedang kita tahu bahwa pada tingkat keluarga posisi tertinggi dipegang oleh suami yang nantinya akan menjadi ayah dari anak-anak.
Sehingga sangat khawatir akan hadirnya banyak mudharat dalam keluarga tersebut, kebahagiaan yang diraih dari model pernikahan ini adalah kebahagiaan yang semu, bagaimana mau bahagia jika agama tidak meridhoi, belum lagi jika keluarga besar juga tidak merestui, kebahagiaan macam apa yang akan diraih dengan ketidakridhoan dari agama dan keluarga?
Sakinah yang didamba dan menjanjikan akan diraih oleh mereka yang menikah tidak akan hadir jika lewat pernikahan seperti ini, setidaknya ini yang kita saksikan dari banyak tanyangan di media dan jejaring sosial, belum dari beberapa kenyataan yang ada diseling penulis yang penulis lihat sendiri dengan mata dan kepala.
Ada sebagian kelompok yang menilai bahwa hukum seperti ini tidak adil, mengapa laki-laki muslim muslim boleh menikah Yahudi dan Nasrani, sedangkan perempuan muslimah tidak boleh dinikahi oleh mereka? Agaknya ada kesan egaois yang ditampilkan.
Untuk menjawab pertanyaan siapa yang egois dan tidaknya bolehlah kita pinjam jawaban yang pernah disampaikan oleh As-Shobuni berikut:
*نحن المسلمين نؤمن بنبيكم (عيسى) وكتابكم (الإنجيل) فإذا آمنتم بنبينا وكتابنا نزوجكم من بناتنا
"Kami ummat Islam beriman dengan Isa dan kitab Injil, jika kalian mau beriman dengan nabi kami (Muhammad SAW) dan kitab kami (Al-Quran) maka kami akan menikahkan anak-anak kami dengan kalian” Untuk mengakhiri pembahasan ini mari kita sempurnakan ayat bacaan kita dengan ayat penutup yang Allah sampaikan sebagai salah satu penguat akan adanya larangan menikah beda agama, terkhusus dalam kasus muslim menikah dengan non muslim.
Firman Allah:
أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإ ِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al-Baqarah: 221)
Semenarik apapun mereka, sekaya apapun mereka, setinggi apapun kedudukan mereka, dan sebagus apapun nasab keturunan mereka, jangan lupa masih banyak muslim dan muslimah yang menarik, kaya, berkedudukan, dan berdarah biru, dan yang fgtidak kalah pentingnya mereka insya Allah shalih dan shalihah (kecuali yang tidak)
Wallahu a'lam bisshawab
Barakallahu fiikum,, Semoga bermanfaat bagi Dinul Islam

Posting Komentar